Indonesia perlu roadmap broadband !!

Iwan KPMG

Mau ponsel dengan teknologi apa? 2G, 3G, 4G, hingga 5G pun sebentar lagi ada di pasaran, termasuk Indonesia. iPhone 4G sudah masuk beberapa waktu lalu, pertanyaannya apakah efektif?
Bagaimana ponsel 3G atau 4G bisa berjalan dengan maksimal jika sinyal yang kita terima masih GPRS, EDGE, syukur-syukur bisa dapet 3G ketika sedang berada di daerah atau luar kota besar.
Pengembangan infrastruktur di negara berkembang sering terfokus pada pembangunan jalan, sarana transportasi, air bersih, dan listrik. Cepatnya kemajuan teknologi kini menuntut negara menyediakan sarana infrastruktur telekomunikasi untuk meningkatkan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat.
Akhir pekan ini saya memperoleh kesempatan berdialog dengan Iwan Atmawidjaja sebagai Head of KPMG Management Consulting Indonesia mengenai strategi yang diperlukan Indonesia untuk membangun jaringan infrastruktur telekomunikasi, berikut petikannya:


Apa dasar yang harus dimiliki untuk membangun jaringan broadband sebuah negara?
Iwan: Sebuah negara harus memiliki visi seperti apa layanan broadband nasional, melingkupi jaringan internet, data, hingga konten yang dibutuhkan sekarang dan di masa mendatang.
Banyak elemen yang perlu dicermati, namun kuncinya mendukung perkembangan negara tersebut secara ekonomi maupun sosial.
Bagaimana regulator harus mengatur, ada beberapa opsi yang bisa dilihat, dimulai dengan adanya masterplan ICT, didalamnya dibahas mengenai akses internet yang dibutuhkan, konten atau layanan yang akan diberikan dan peran pemerintah dalam mengatur industri, opsi pilihan teknologi, kebutuhan biaya, hingga strategi mengimplementasikan roadmap tersebut.
Meratanya dukungan infrastruktur akan membantu membuka kesempatan masyarakat untuk maju dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Berdasarkan pengalaman kami sebagai konsultan pemerintah dan operator, ada tiga peluang dimana pemerintah bisa memberikan kontribusinya, yaitu regulasi, jaminan pasar, dan dukungan keuangan. Pemerintah setiap negara biasanya mengkombinasikan ketiga hal ini berdasarkan karakteristik negara masing-masing.
Pembangunan dan pengembangan jaringan di Indonesia cukup kompleks dengan kondisi demografis negara kepulauan dengan banyak jumlah penduduk namun tidak merata di semua wilayah.
Indonesia tahun ini mencanangkan enam koridor ekonomi guna percepatan dan perluasan pembangunan nasional. Koneksi internet dengan kecepatan tinggi dan stabil melalui jaringan pita lebar (broadband) menjadi dasar yang harus dimiliki merata seluruh wilayah.
Membangun infrastruktur telekomunikasi di sini tentunya tidak murah. Dananya bisa dari pemerintah, swasta, dan kombinasi keduanya. Jika diserahkan kepada swasta seluruhnya, tentu saja pemerintah selaku regulator harus memiliki regulasi yang kuat sehingga masyarakat tidak dirugikan dengan mahalnya layanan, atau layanan di bawah kualitas yang ditetapkan.

Bagaimana negara lain membangun jaringan telekomunikasi mereka?
Iwan: Setiap negara memiliki visi dan tantangan yang berbeda. Dari pengalaman kami membatu beberapa negara, ada regulator yang mendukung pendanaan, seperti menyediakan dana dalam bentuk hibah atau subsidi, dan atau insentif pajak untuk sektor swasta (operator telekomunikasi) dengan syarat mereka harus menyediakan layanan akses broadband ke pelanggan (nasional) dengan harga yang sangat terjangkau. Ada juga intervensi dengan mengatur industri untuk menjamin akses ke broadband dapat mudah diperoleh dan tersedia bagi pihak ketiga.
Kuncinya, regulasi yang kuat, termasuk komitmen pemerintah memberikan layanan yang mudah diakses masyarakat luas melalui jaringan internet seperti e-goverment dan e-education.
Setiap negara juga ada tantangan, seperti Singapura, sebagai negara kecil dengan populasi kecil, tujuan utama pemerintah adalah untuk membangun sebuah jaringan nasional yang terjangkau untuk industri, broadband publik yang kompetitif dan memungkinkan inovasi layanan di atas jaringan.
Di Australia, pasar didominasi oleh operator incumbent dan daerah geografis yang luas untuk menutupi populasi kecil. Pemerintah fokus menentukan model bisnis yang tepat untuk memastikan infrastruktur broadband menjangkau seluruh wilayah dan memilih teknologi yang tepat untuk daerah terpencil dan non-perkotaan.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak lokasi belum memiliki infrastruktur yang baik, hal ini menjadi tantangan, ditambah besarnya jumlah penduduk. Pemerintah harus memiliki agenda dan menjadikan pembangunan jaringan broadband nasional sebagai prioritas. Dari situ diturunkan ke pencarian bisnis model, pemilihan teknologi, pendanaan, hingga implementasi. Dengan kejelasan regulasi, pasti pihak swasta juga akan melakukan investasi dengan maksimal dan mau mengembangkan jaringannya merata di seluruh wilayah, tidak hanya meningkatkan layanan di kota besar dengan jumlah penduduk banyak dan memiliki nilai pasar tinggi.

Bagaimana kondisi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia saat ini?
Iwan: Indonesia sudah memiliki layanan 3G  dan terus dikembangkan, termasuk uji coba teknologi 4G, namun semua ini masih di kota besar. Ketika berbicara mengenai kondisi nasional, banyak area yang belum tersentuh infrastruktur karena bagi pemain swasta tidak menguntungkan untuk mengembangkan jaringan di kota kecil atau daerah yang sedikit jumlah penduduknya.
Pihak swasta memerlukan dukungan pemerintah untuk menyeimbangkan penyebaran dan kualitas jaringan pita lebar di semua wilayah. Daerah non perkotaan dengan populasi sedikit memerlukan kualitas jaringan yang baik untuk membuka kesempatan mereka memperoleh pendidikan lebih melalui e-education, mempelajari tren global, dan bekerja di sektor lebih luas, termasuk meningkatkan jaringan bisnis mereka.
Dari sini, langkah pertama adalah mengetahui kebutuhan semua pihak, meliputi pemerintah, sektor swasta, lembaga non-profit, dan masyarakat. Teknologi apa yang akan digunakan seharusnya tidak menjadi masalah besar karena ada banyak pilihan teknologi seperti fixed broadband, mobile broadband, teknologi satelit, atau kombinasi dari tiga jenis teknologi tersebut.
Untuk memberikan layanan broadband nasional yang luas dan berbiaya rendah, dukungan pemerintah diperlukan, misalnya melalui subsidi biaya investasi dalam jaringan broadband atau kebijakan regulasi untuk memastikan akses terbuka ke jaringan broadband untuk industri.
Sebagai penasehat pemerintah dan operator, KPMG telah bekerja pada banyak program infrastruktur broadband seperti membantu pemerintah dan operator mengembangkan model bisnis yang tepat dan bekerja pada pengembangan rencana TIK dengan pemerintah dan swasta, pengembangan kasus bisnis termasuk model pendanaan, dan manajemen pelaksanaan inisiatif broadband nasional.